Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN. Tampilkan semua postingan

Tahap Dasar Perencanaan

Menjelang akhir tahun, adalah saat yang tepat untuk merumuskan perencanaan usaha tahun mendatang. Berikut ini empat tahap dasar pembuatan perencanaan yang baik.

Tahap 1:
Menentukan tujuan atau serangkaian tujuan.
Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan perusahaan. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, penggunaan sumber daya perusahaan tidak efektif.
Tahap 2:
Merumuskan keadaan saat ini.
Pemahaman akan kondisi perusahaan sekarang dan tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting. Karena tujuan dan rencana menyangkut waktu akan datang. Hanya setelah keadaan perusahaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua ini memerlukan informasi terutama keuangan dan data statistik.

Tahap 3:
Mengindentifikasikan segala kemudahan dan hambatan.
Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu di identifikasikan, untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor lingkungan dalam dan luar yang dapat membantu perusahaan mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah dan kesempatan serta ancaman yang mungkin terjadi di waktu mendatang, adalah bagian penting dari proses perencanaan.
Tahap 4:
Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.
Tahap akhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai pilihan kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian pilihan kegiatan terbaik (paling memuaskan) di antara pilihan yang ada.

(WM/E131/ThVI/Desember2006)

Masuk Tipe Pengusaha Apakah Anda?

Ternyata banyak pemilik usaha kesibukannya bukannya menurun malah semakin tinggi ketika menambah jumlah karyawan. Atau sebaliknya, dengan ratusan karyawan mereka bisa saja tetap santai. Persoalan ini ada kaitannya dengan "Tipe Pengusaha".

Setelah memulai usaha, anda menjadi pemilik sekaligus direktur utama perusahaan, mungkin juga sekaligus manajer. Anda makin sibuk mengelola usaha. Anda bukan lagi orang yang diatur jam kerjanya oleh orang lain, tetapi anda sendiri yang menentukan jam kerja.
Mengapa anda malah lebih repot mengatur waktu di banding para karyawan, sementara anda melihat banyak pelaku usaha bisa berlibur dengan tenang, ikut dalam kegiatan sosial, keagamaan dll, tetapi usaha tetap bisa berjalan?

Kesibukan ternyata sangat dipengaruhi oleh tipe pengusaha. Ada 3 tipe pelaku usaha yaitu:
  1. Tipe Teknisi. Adalah tipe usaha yang umumnya memulai usaha dengan mengandalkan keahlian atau hobi. Tipe ini berciri sangat pandai menjalankan hal-hal teknis terkait dengan usahanya. Misalnya seorang ahli membuat kue membuka usaha pabrik roti/ kue. Keunggulan tipe ini adalah sangat paham tentang seluk beluk pekerjaan karyawannya, walaupun keunggulan ini bisa saja sekaligus menjadi kelemahannya ketika dia sulit mendelegasikan pekerjaan, lantaran dia merasa paling bisa. Tipe ini paling senang melayani pelanggan, dan pelangganpun merasa diistimewakan sehingga mereka akan membeli jika langsung dilayani oleh pemiliknya. Tetapi ingat, situasi ini membuat pemilik semakin tidak bisa meninggalkan tempat usahanya. Semakin maju usahanya semakin sibuklah dia. Pengusaha tipe ini adalah pemilik yang merangkap sebagai karyawan. Ia bekerja keras agar dapat menggaji karyawannya. Artinya karyawan hanya diperlakukan sebagai pembantu. Jika anda termasuk tipe ini bersiaplah menjadi sangat sibuk, ketika pelanggan anda makin bertambah. 
  2. Tipe Manajer. Pengusaha dengan tipe ini biasanya sudah menerapkan prinsip-prinsip manajemen sebagaimana diajarkan di sekolah atau buku-buku manajemen. Meskipun usahanya masih kecil, pengusaha tipe ini berupaya membuat aktivitas usahanya tampak moderen, membuat perencanaan dan melakukan evaluasi secara rutin. Struktur organisasi dan pembagian kerja yang jelaspun disusun secara rapi. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu ber jam-jam untuk rapat ketika hendak memutuskan sesuatu. Pengusaha ini lebih sebagai pemilik sekaligus manajer, sehingga ia sibuk mengontrol karyawannya. Semakin maju usahanya semakin banyak waktu untuk rapat. Semakin banyak karyawannya semakin sering rapat.
  3. Tipe Enterprenaur. Enterprenaur adalah pemilik usaha yang sebenar-benarnya. Ia bisa menjadi pemilik sekaligus direktur yang pekerjaan utamanya adalah memotifasi karyawan untuk bekerja sebaik-baiknya, menjalin hubungan dengan pasar dan pemilik modal, serta melakukan negosiasi dalam rangka pengembangan usaha. Pengusaha tipe ini umumnya tidak suka pada masalah teknis. Kalaupun terpaksa ia harus mengurus masalah teknis, maka dia akan berusaha sesegera mungkin menyerahkan kepada orang lain. Selain itu ia juga tidak suka dengan perencanaan yang berbelit-belit, karena menurutnya itu urusan manajernya. Jika ia melihat sesuatu yang berpotensi menjadi usaha baru, maka ia akan mencari orang yang bisa mewujudkan idenya itu. Dengan demikian ia akan lebih banyak memanfaatkan waktu untuk membuka usaha baru atau melakukan aktivitas sosial.
Kesimpulannya jika pengusaha tipe teknisi dan manajer semakin sibuk ketika usahanya mulai berkembang, maka pengusaha dengan tipe enterpreneur justru mulai bebas menikmati liburannya bersama keluarga.

Termasuk tipe pengusaha yang manakah anda?

(WM/ E152/ ThVIII)

Pentingnya Sikap Positif

Pengusaha yang memiliki mental wirausaha, selalu berusaha untuk menggunakan sikap mereka untuk mengendalikan keadaan. Karena itu, kita perlu memiliki sikap mental positif. Dengan mental ini, kita akan lebih mudah untuk fokus pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perusahaan, dan atas hasil-hasil yang ingin kita capai.

Orang ini memiliki mental positif, tidak akan putus asa dalam menghadapi masalah berat sekalipun. Mereka selalu mencari segi-segi yang positif dari peristiwa-peristiwa tersebut. Paling tidak, sebagai hikmah atau pelajaran berharga sehingga kelak bisa mengantisipasinya, Sikap mental positif dapat dikembangkan meskipun membutuhkan waktu yang lama. Faktor-faktor berikut ini berguna bagi pengusaha dalam mengembangkan sikap mental yang positif.
  1. Pusatkan perhatian anda sedemikian rupa dan gunakanlah pikiran anda secara produktif.
  2. Pilihlah sasaran-sasaran positif dalam pekerjaan anda.
  3. Bergaul dengan orang-orang yang bergaul dan bertindak secara wira usaha. Cara berfikir dan bertindak dari orang-orang di sekitar anda, mungkin berimbas pada diri anda.
  4. Jauhilah pikiran dan ide-ide yang negatif.
  5. Selalu sadar bahwa andalah yang mengendalikan pikiran anda. Gunakan pikiran anda secara produktif.
  6. Selalu awas terhadap peluang untuk meningkatkan situasi anda baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
  7. Jangan takut meninggalkan suatu ide, jika tidak menghasilkan hasil yang benar. Lebih baik mengubah arah dari pada mengejar sesuatu ide yang tidak akan berhasil secara maksimal. Lingkungan anda akan mempengaruhi prestasi anda. Jika lingkungan anda tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan anda, ubahlah lingkungan itu atau pindah ke lingkungan yang lebih positif dan memungkinkan tercapainya sasaran yang anda targetkan.
  8. Percayalah pada diri anda sendiri. Sukses akan datang kepada mereka yang percaya pada kemampuan mereka dan menggunakan kemampuan itu sepenuhnya.
  9. Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan. Pusatkan pikiran anda pada suatu problem tertentu. Sekali anda telah mencapai keputusan, ambillah tindakan untuk memecahkan tindakan itu. Usahakan agar konflik-konflik mental diselesaikan secepat mungkin.

(WM/ E112/ ThV/ 12-25 September 2005)  

Pembentukan Perilaku Karyawan

Perilaku karyawan sangat berpengaruh terhadap produktifitas. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa membentuk perilaku positif karyawan.



Teknik pembentukan perilaku positif
  1. Jangan memberikan penghargaan yang sama terhadap semua orang.
  2. Perhatikan bahwa kegagalan untuk memberikan tanggapan dapat juga merubah perilaku.
  3. Beritahu karyawan tentang apa yang harus dilakukan untuk mendapat penghargaan.
  4. Beritahu karyawan tentang apa yang dilakukan secara salah.
  5. Jangan memberi hukuman di depan karyawan lain.
  6. Bertindaklah adil.
Memotifasi karyawan
  1. Pemberian penghargaan sesuai dengan kebutuhan bawahan.
  2. Penentuan prestasi yang diinginkan.
  3. Pembuatan tingkat prestasi yang dapat dicapai.
  4. Penghubungan penghargaan dengan prestasi.
  5. Penganalisaan faktor-faktor apa yang bersifat berlawanan dengan efektifitas penghargaan.
  6. Penentuan penghargaan yang mencukupi atau memadai.
Sistem perusahaan yang mendukung
  1. Sistem penghargaan organisasi harus dirancang untuk memotifasi perilaku yang diinginkan.
  2. Pekerjaan itu sendiri dapat dibuat sebagai bentuk pemberian penghargaan. Dengan demikian, karyawan akan merasa berguna atau memainkan peranan penting, dengan melakukan tugasnya.
  3. Atasan langsung mempunyai peranan penting dalam proses motivasi.

(WM/ E119/ Th V/ 191206-010106)

Mengembangkan Ide Kreatif

Ide kreatif merupakan salah satu kunci sukses dalam bisnis. Berikut adalah teknik mengembangkan ide kreatif, sekaligus meminimalisir risiko gagal dalam pelaksanaannya.

Coba utarakan ide anda kepada orang terdekat, misalnya istri/ suami atau teman -teman anda. Seringkali lebih baik membicarakan sesuatu ide sebelum dirumuskan lebih jauh untuk dilaksanakan. Menerangkan suatu ide mengantar pada suatu diskusi, yang akan menghasilkan suatu perbaikan. Hanya setelah ide itu menjadi pasti, barulah dirumuskan langkah pelaksanaannya. Malahan masih ada kemungkinan terjadinya banyak perubahan sebelum dilaksanakan.

Kemukakan ide anda sedikit demi sedikit. Pertama-tama, ajukan konsep totalnya. Dengan berlalunya waktu, dan dengan semakin tertariknya orang pada ide anda, barulah rincian-rincian dikemukakan.

Pilihlah tempat dan waktu untuk mengemukakan ide anda kepada orang lain. Jika pelaksanaan itu harus melibatkan pihak lain, misalnya pemodal, pastikan bahwa yang bersangkutan tidak sedang mengalami masalah yang serius. Ketepatan waktu sangatlah penting dalam mengemukakan suatu ide. Pilihlah waktu ketika orang lain paling terbuka terhadap suatu yang baru.

Dalam menghitung kelayakan pelaksanaannya, lakukan perhitungan dari berbagai sisi. Jika sudah benar-benar mantab, segera laksanakan. Terlalu banyak pertimbangan, juga tidak baik karena bisa memunculkan keraguan. Pelaksanaan ide baru, memang menghadapi resiko gagal yang tinggi. Tetapi jika berhasil, keuntungan yang diperoleh pun tinggi pula.


DEVELOPING CREATIVE IDEAS

Creative idea is one key to succeed in business. Here are techniques to develop creative ideas as well as minimize the risk of failure in implementation.

Try to express your ideas to the closest persons, such as wife / husband or your friends. It is better to talk about something before formulate the idea further to apply. Explaining an idea leads a discussion which will have a result in an improvement. Then, after it becomes certain ideas, formulate implementation measures. In fact, there is possibility of many changes before it is implemented.
Explain your ideas slowly, First of all, explain the total concept. As the time passes and more people interested in your ideas then presented details.

Choose a right place and time to express your ideas to others. If the implementation will involve other parties, such as investors, make sure that the involved parties are not in a serious problem.
Punctuality is critical in expressing an idea. Choose a time when people are open-minded to something new.

In calculating the feasibility of its implementation, do the calculations from various sides. If you are already sure, do it immediately. Too many considerations is not good also because it raises doubts.
Implementation of new ideas means facing a high risk of failure. But if it is successful, the benefits are too high as well.


(WM/E122/ ThVI/ 0306) 

Menghitung Keuntungan Usaha

Setiap pengusaha pasti mempunyai falsafah usaha sendiri-sendiri yang berpengaruh pada perolehan keuntungan yang ditargetkan. Falsafah apa yang Anda anut?

Sebagai pengusaha anda pasti berharap agar perusahaan anda bisa bertahan dan berkembang dalam segala situasi perekonomian. Untuk mewujudkan harapan itu, harus diusahakan agar perkembangan perusahaan senantiasa selaras dengan perkembangan masyarakat, konsumen, teknologi dan situasi lain-lain di sekitar usaha. Perkembangan ini menuntut perusahaan untuk ikut berkembang. Perkembangan perusahaan hanya mungkin bila dalam kegiatannya menghasilkan keuntungan.

Lagipula tidak bisa diingkari lagi, tujuan akhir perusahaan adalah keuntungan. Tingkat keuntungan yang berhasil diraih sering dijadikan ukuran keberhasilan. Keuntungan juga menunjukkan betapa efektifnya sumber daya yang digunakan. Selain itu, keuntungan dapat merangsang pemilik untuk menambah modal lebih besar lagi. Dengan keuntungan yang diperoleh, pengelola akan dapat melakukan penyempurnaan mutu, pengembangan teknologi dan pelayanan lebih bagus kepada konsumen. Dengan keuntungan pula usaha dapat diperluas, produksi diperbanyak sehingga konsumen akan memperoleh jaminan mutu, jumlah, dan harga yang memuaskan.

Lantas, bagaimana dan berapa besar keuntungan itu diperoleh? Ini bisa tergantung falsafah yang dianut pengusaha. Secara umum, ada tiga falsafah usaha yang mempengaruhi perolehan keuntungan.

Pertama, memperoleh keuntungan setinggi-tingginya (falsafah maksimalisasi). Pengusaha yang menganut falsafah ini, selalu terdorong untuk bekerja keras. Tetapi, kalau dorongan itu terlalu kuat pengusaha bisa tergoda untuk melanggar etika usaha dan menghalalkan segala cara demi mencapai keuntungan. Ini tidak dapat dibenarkan. Dalam mengejar keuntungan dianjurkan untuk selalu ingat pada etika usaha.

Kedua, falsafah optimalisasi. Di sini pengusaha berupaya mengejar keuntungan tinggi, tetapi tidak harus setinggi-tingginya. Semua kepentingan yang terkait dalam usaha termasuk konsumen, masyarakat, lingkungan hidup dan juga negara, perekonomian nasional dan sebagainya, dia perhatikan. Jika falsafah ini digunakan, maka akan dapat diperoleh suatu tindakan perjuangan yang wajar, yaitu keuntungan yang kecil dulu untuk memikat konsumen. Selanjutnya, seiring dengan meningkatnya konsumen dalam jangka waktu panjang, akan diperoleh peningkatan keuntungan yang semakin besar.

Ketiga, adalah falsafah ala kadarnya. Pengusaha penganut falsafah ini ditandai dengan sikap apa adanya. Yang penting usaha tetap berjalan terus, asal ada keuntungan, berapapun besarnya. Bahkan, tingkat keuntungan tidak dinaikkan meskipun peluang itu sudah di depan mata.

Namun, apapun falsafah yang dianut, setiap pengusaha perlu merencanakan keuntungan. Soal besar kecilnya, tergantung pada falsafah yang dianut tadi. Apakah falsafah maksimalisasi dengan konsekuensi sanggup membanting tulang, atau falsafah optimalisasi, yaitu dengan mengingat situasi dan kondisi, ataukah falsafah nrimo yaitu asal ada untung.

Rencana keuntungan dapat diperkirakan dari selisih antara perkiraan hasil penjualan, dengan seluruh biaya yang dikeluarkan. Bagi usaha yang cukup mantap, biasanya keuntungan sekitar 25% sampai 30% sudah cukup layak. Keuntungan juga dapat direncanakan dengan melihat daya keuntungan yang diinginkan untuk mendapatkan kembali investasi yang ditanamnya.


CALCULATING BUSINESS PROVITS

Every employer must have a philosophy of his own efforts that affect the targeted profitability.
What philosophy do you profess?

As an entrepreneur you must expect that your company can survive and thrive in any economic situation. To realize that hope, you have to try to make the company's growth is always in harmony with the development of community, consumer, technology and other circumstances surrounding the business. This development requires the company to grow as well.The company's growth is possible if the company's activity is profitable.

Moreover, it can not be denied that the ultimate goal of a company is profit. The level of profit achieved is often used as benchmarks for success. Benefits also show how effective does the use of resources. In addition, profits can stimulate the owner to raise capital even further. By their profits, managers will be able to make improvements in quality, technology development and better services to consumers.By profits also business can be expanded, production scaled is improved so the consumers will get a guarantee of quality, quantity, and a satisfactory price.

So, how and how much profit was earned?
It could depend on a philosophy which is held by the entrepreneur. In general, there are three philosophies that affect business profitability.

First, get the highest profits (philosophy of maximizing). Employers who embrace this philosophy is always motivated to work hard.However, if the motivation is too strong, the entrepreneur may be tempted to violate the ethics of business and justifies any means to achieve profit. This is not acceptable. In earning profits, it is recommended to always remember in business ethics.

Second, optimization philosophy. Here, entrepreneurs seek high profits, but not necessarily highest.
He notices all relevant interests in the business, including consumer, community, environment and also the state, national economy and so on. If this philosophy is used, it will be able to obtain a reasonable action, a little benefits to attract consumers. Furthermore, with the increase of consumers in the long run, it will increase greater profits.

Third, is a rudimentary philosophy. Entrepreneur adherents of this philosophy is marked with an attitude as it is. The important thing is the business keeps going from a profit no matter how much it is. In fact, the level of profit is not increased although the opportunity was already in sight.

However, whatever the philosophy which is adopted, every entrepreneur needs to plan for profits.
The size of profits whether much or few, depends on the philosophy espoused earlier. Whether the philosophy of maximizing with the consequences to be a hard worker, or the philosophy of optimization, by considering the situation and conditions, or the philosophy as it is as long as profitable.

Beneficial plan can be estimated from the difference between the estimated sales results with all costs incurred. For a steady business, gaining about 25% to 30% is quite feasible. Benefits can also be planned to see the desired benefits to recover the planted investment.


(WM/ E141/ ThVIII/ 0108)

Terampil Dalam Mengambil Keputusan

Menjalankan kegiatan usaha tidak lepas dari rangkaian pengambilan keputusan. Tingkat ketepatan dalam pengambilan keputusan, sangat berpengaruh pada jalanya usaha. Sebagai pengusaha, tentu saja mempunyai banyak pengalaman dalam pengambilan keputusan.
Tapi, apakah kita cukup terampil dalam mengambil keputusan yang tepat. Jawaban atas pertanyaan- pertanyaan berikut, bisa menjadi gambaran untuk mengukur kemampuan kita dalam mengambil keputusan.
  • Bagaimana kita dapat menjaga kepercayaan diri ketika mengambil keputusan penting?
  • Contoh-contoh manakah selama enam bulan terakhir ini, yang mampu menggambarkan kita mengambil keputusan realistik?
  • Apakah kelemahan atau ketakutan kita sewaktu mengambil keputusan?
  • Dengan cara bagaimanakah kita menggunakan kreativitas dan atau intuisi dalam mengambil keputusan?
  • Hikmah apa yang kita petik dari kesalahan-kesalahan yang kita buat dalam keputusan-keputusan yang lalu?
  • Dengan cara-cara bagaimanakah kita menangguhkan dan menunda pengambilan keputusan?
  • Bagaimana keluwesan kita dalam mengadakan penyesuaian-penyesuaian dengan perubahan-perubahan di lingkungan kita?
  • Apakah kita dapat dipaksa membuat keputusan?
  • Tindakan apakah yang biasanya kita ambil setelah mencapai sebuah keputusan?
  • Bagaimana cara kita memimpin agar tercapai hasil-hasil yang diinginkan?
  • Bagaimana cara kita menggunakan sumber-sumber daya di lingkungan kita dalam mengambil keputusan-keputusan?
  • Bagaimana cara kita memanfaatkan kontak profesional dan pribadi kita untuk memperoleh informasi yang akan membantu anda mengambil keputusan?
Jika kita mampu mengambil keputusan-keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, mungkin kita dapat mengambil keuntungan sewaktu timbul peluang-peluang bisnis. Kadang-kadang kita harus mengambil keputusan dengan cepat agar dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.

SMART IN MAKING DECISION

Running the business activities can not be separated from the decision making. The accuracy in making decisions is highly influential in business nets. As a businessman, of course, we have lots of experience in decision making.

But, do we quite smart in making the right decision?The answers of these questions, could depict or measure our ability in making decisions.

How we can maintain confidence while making important decisions?

Which examples during the last six months, which are able to describe our ability in making realistic decisions?
  • What are our weaknesses when making decisions?
  • In what way we use creativity or intuition in making decisions?
  • What lessons can we learn from the mistakes we have made in the decisions of the past?
  • In what ways we suspend and delay the decision-making?
  • How flexible are we in making adjustments to the changes in our environment?
  • Would we be forced by others in making a decision?
  • What actions we can do after reaching a decision?
  • How do we lead in order to achieve the desired results?
  • How do we use the resources in our environment to help us in making a decisions?
  • How do we use personal and professional contacts to get information that will help us in making decisions?
If we are able to make decisions within the limitation of time, maybe we can take advantage when there are business opportunities. Sometimes we have to make decisions quickly in order to take advantage of opportunities as much as possible.

(WM/E159/ThIX/09)

Manajemen Waktu (Bagian 3)


Berorientasilah pada tindakan
Sekali kita memutuskan untuk memecahkan suatu persoalan tertentu, rancanglah sebuah tindakan dan mulailah. Sekali kita mulai, cobalah selesaikan sebanyak mungkin dan secepat-cepatnya. Sediakan waktu untuk merencanakan pekerjaan, kemudian luangkanlah waktu untuk mengerjakan rencana.
Orientasi tindakan ini dapat membantu kita, untuk tidak menunda suatu penanganan problem. Lagi pula, jika kita memandang setiap problem sebagai suatu kesempatan untuk peningkatan potensi, kita akan lebih sadar akan cara kreatif dan inovatif dalam memecahkan problemnya.

Bergurulah pada pengalaman
Meninjau kembali pengalaman-pengalaman lampau, membantu kita menentukan pengalaman-pengalaman mana yang menarik, produktif dan mana yang membosankan, menghabiskan waktu dan tidak produktif. Kita akan mengalami pengalaman-pengalaman serupa di masa depan, dan untuk memilih kegiatan-kegiatan yang paling berharga dan produktif tergantung pada kita sendiri.

Rencanakan hari esok secara terperinci
Pada akhir setiap hari, siapkan suatu jadual untuk hari-hari berikutnya. Bahkan kita mungkin dapat memulai dengan satu kegiatan sebelumnya, sehingga besoknya bisa lancar mulai bekerja dan tidak menunda-nunda. Kadang kita lebih mudah menyelesaikan suatu kegiatan daripada memulainya. Akhir hari juga merupakan waktu baik untuk meneliti bagaimana kita telah memboroskan waktu atau menggunakannya secara tidak efisien. Catatlah pemborosan-pemborosan waktu ini. Dengan demikian kesalahan-kesalahan yang sama tidak akan terulang di masa depan.

Tanyakan penggunaan waktu
Agar kita dapat mengelola waktu dengan baik, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan berikut:

* Kegiatan-kegiatan manakah yang sedang saya lakukan, dan seharusnya tidak saya lakukan atau dapat didelegasikan kepada orang lain?
* Apakah saya menetapkan prioritas ketika memutuskan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan?
* Apakah kegiatan-kegiatan saya terjadwal sehingga dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang masuk akal?
* Apakah saya mampu berkonsentrasi atas satu kegiatan secara berturut-turut?



OVERCOMING PROBLEMS QUICKLY AND DO EVALUATION

Action Oriented
Once we decide to solve a particular problem, set a plan and start the action.Once we started, try to finish as much as possible and as quickly as possible. Take time to plan the work, then take time to work on the plan.The orientation of these actions can help us not to delay in handling a problem.
Moreover, if we look at every problem as an opportunity for potential improvement, we will be more aware of creative and innovative way in solving the problem.

Experience is the best teacher
Reviewing past experiences will help us in determining which experiences are interesting, productive and which are tedious, time consuming and not productive. We will experience similar things in the future, and choosing the most valuable and productive activities depend on our own.

Plan your next day in detail
At the end of each day, prepare a timetable for the next day. In fact we may start an activity before the day, so on the next day we can begin the job smoothly and do not procrastinate.
Sometimes it is easier to complete an activity than to start. End of the day is also a good time to examine how we have wasted our time or use it inefficiently.Record this waste of time. Thus the same mistakes will not happen in the future.

Ask the use of time
In order to manage the time well, ask the following questions:
  • Which activities I am doing which actually should not be done or can be delegated to others?
  • Did I set priority when deciding which activities should be done?
  • Do my activities scheduled so that it can be done within a reasonable time?
  • Am I able to concentrate on one activity in a row?

(WM/E117/ThV/2111-0412/05)

Manajemen Waktu (Bagian 2)

PILIH WAKTU UNTUK SELESAIKAN TUGAS UTAMA

Agar waktu bisa dimanfaatkan secara efisien, jangan melakukan semua pekerjaan. Konsentrasi pada pekerjaan paling penting, dan pilih waktu yang tepat untuk menyelesaikan.

Janganlah melakukan segala-galanya
Sebuah pepatah lama berbunyi: "Jika Anda ingin menjadikan sesuatu, suruhlah orang yang sibuk untuk melakukannya". Wirausaha sibuk, namun tindakan-tindakannya ada tujuannya. Pusatkan perhatian anda hanya pada yang penting-penting. Dengan berorientasikan tujuan, anda harus melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada hasil-hasil yang berarti. Bersifatlah selektif dalam kegiatan-kegiatan kerja anda dan jangan melakukan segala-galanya. Belajarlah untuk mengatakan "tidak" pada kegiatan-kegiatan yang memakan waktu, yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan - tujuan prioritas anda.

Tetapkan Waktu
Tetapkanlah waktu anda untuk melakukan tugas-tugas utama, selama tiga atau empat jam pada saat anda biasanya merasa paling efektif dalam suatu hari. Kegiatan-kegiatan anda lainnya hendaknya dijadwalkan di sekitar waktu yang sudah ditetapkan tadi. Jika biasanya efektif sekitar makan siang, ambillah sarapan pagi banyak-banyak dan abaikan makan siang. Berkonsentrasi pada pekerjaan utama tanpa gangguan selama tiga atau empat jam dapat sangat produktif.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum memulai
Hampir semua pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih efisien. Sebelum memulainya, jawablah lebih dahulu pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa? Di mana? Kapan? Siapa? Bagaimana? Mengapa? Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan membantu anda menemukan cara-cara yang lebih efisien dalam melaksanakan pekerjaan anda. Untuk setiap langkah kegiatan, tanyalah diri anda: "Mengapa saya perlu melakukan ini?" Jawaban-jawaban anda akan membantu dalam menentukan tugas-tugas penting dari kegiatan itu.

CHOOSE THE BEST TIME TO FINISH MAIN TASKS

In order to use the time efficiently, do not do all jobs. Concentrate on the most important job, and select the appropriate time to complete it.

Do not do all jobs.
An old proverb says: "If you want to make something, send a busy person to do it". Entrepreneur is busy, but his actions have some certain purposes. Focus your attention only on the essential jobs.
With a goal oriented, you have to do the activities that lead to the meaningful results. Be selective in doing the activities of your job and do not do all of them. Try to say "no" to the activities that take much time which is not directly related to the purpose - your priority goals.

Set the time
Establish the best time to do the main tasks for three or four hours at the time you usually feel most effective in one day. Other activities should be scheduled at other time around the time set earlier.
If you usually the most effective time is around lunch, take breakfast a lot and ignore lunch. Concentrate on the major job without interruption for three or four hours can be very productive.

Ask questions before you start doing your main tasks can make almost all the work can be done more efficiently. Before you begin your job, firstly answer questions such as: What? Where? When? Who? How? Why? The answers of these questions will help you to discover some ways to be more efficient in carrying out your work. For each step in doing your activities, ask yourself: "Why do I need to do this?" Your answers will help you in determining important tasks of the activity.


(WM/E116/ThV/7-20/10/05)

Manajemen Waktu (Bagian 1)

MENETAPKAN TUJUAN DAN BATAS WAKTU

Manajemen waktu menyerupai kebiasaan-kebiasaan kerja. Penggunaan waktu yang baik semata-mata berarti mencapai keluaran maksimal dalam waktu yang tersedia. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara.

Tentukan tujuan-tujuan khusus harian
Pastikan bahwa kita memahami apa yang ingin dicapai setiap hari. Sebelum sampai atau segera setelah kita sampai di tempat kerja, susunlah tujuan kerja menurut urutan pentingnya. Kerjakan lebih dulu tujuan yang paling penting. Kesampingkan semua pekerjaan lain, sebelum yang paling penting tadi tercapai. Jangan biarkan pengaruh luar menghentikan penyelesaian tujuan kita.
Tujuan-tujuan utama mungkin memerlukan pemusatan perhatian sepenuhnya. Karena itu coba bekerja sendiri sampai tujuan tercapai. Jauhilah segala hal tang mengganggu, atau mengalihkan perhatian. Tetapkanlah kerutinan-kerutinan operasional perusahaan sedemikian rupa, sehingga dapat berjalan tanpa kehadiran kita. Jika persoalan-persoalan perusahaan selalu mengganggu konsentrasi kita, maka perlu diadakan perubahan.

Motivasi dari dalam
Para wirausaha biasanya individual yang bermotivasi tinggi, dan menikmati pekerjaan apapun yang mereka kerjakan. Kebanyakan orang mampu mencapai tujuan-tujuan yang mirip dengan apa yang mereka inginkan. Namun, wirausaha mampu memotivasi dirinya sendiri untuk memproduksi hasil yang tinggi pada pekerjaan yang harus mereka lakukan.

Tetapkan batas waktu
Lebih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan, jika kita menempatkan batas waktu tertentu untuk mencapai tugas-tugas tertentu. Namun, pastikan agar batas waktu tersebut realistis. Sekali telah ditetapkan, kita haruslah berbuat apapun untuk memenuhi batas waktu.


SETTING GOALS AND TIME LIMITATION

Time management is like work habits.
Using the time well simply means achieving the maximum output in the available time. It can be achieved in various ways.

Set the daily specific goals.
Make sure that we understand what you want to achieve every day. Before or soon after we arrived at the work place, arrange the work objectives based on importance scale.
Do the most important goals first.Put aside all other work, before the most important one is achieved. Do not let outside influences stop the completion of our goals.The main objectives may require full concentration. Therefore, try to work alone until the goal is reached. Stay away from all disturbing things or the things which will distract the concentration. Establish operational routinity as good as possible so that it can run without our presence. If the company's problems always interfere our concentration, then it is necessary to be changed.

Motivation from within
The entrepreneurs are usually highly motivated individual, and enjoy whatever work they do.
Most people are able to achieve goals which are similar to what they want. However, entrepreneurs are able to motivate themselves to produce high quality results in their work to be done.

Set a time limitation
More work can be done, if we put a certain time limit to achieve certain tasks. However, make sure that deadlines are realistic.Once established, we should do anything to fulfill the deadline.


(WM/E155/ThV/2410-611/05)