Menyusun Rencana Bisnis: Optimis tapi Realistis

Perencanaan bisnis harus menetapkan target tinggi yang menantang. Tapi tidak mengabaikan faktor lain terutama peluang dan kemampuan untuk menjalankannya.

Menjalankan bisnis tanpa pelaksanaan bisa diibaratkan berjalan menembus hutan belantara tanpa kompas atau peta. Memang ada kemungkinan bisa sampai ke tujuan, tapi kemungkinan itu sama besarnya dengan risiko tersesat. Minimal, perjalanan yang ditempuh tidak efisien dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga karena rutenya melingkar.
Sayangnya, banyak pengusaha kecil menengah yang mengabaikan rencana bisnis. Segalanya dibiarkan berjalan begitu saja, cenderung berdasarkan naluri belaka. Tentu saja, ada di antara mereka yang berhasil meningkatkan perkembangan usahanya. Tapi tak sedikit yang jalan di tempat atau mengalami perkembangan yang lambat.

Bahkan, usaha yang sudah berkembang pun tak jarang yang tiba-tiba saja jatuh tanpa sempat diketahui terlebih dahulu faktor penyebabnya. Dalam hal ini, boleh jadi, usaha yang berkembang tanpa perencanaan itu lebih banyak didukung oleh faktor bejo alias keberuntungan.
Dengan perencanaan bisnis, pengembangan usaha bisa dilakukan secara terarah. Setiap pencapaian pun bisa diukur. Benar, adanya perencanaan bisnis tidak menjamin terjadinya perkembangan. Tapi, dengan melihat kembali strategi yang dirumuskan dalam perencanaan, biasanya evaluasi akan lebih mudah dilaksanakan. Jadi, pengusaha bisa lebih mudah melihat permasalah yang terjadi, sekaligus cara untuk memperbaikinya.

Realistis
Sebelum menyusun perencanaan, terlebih dahulu harus ditetapkan tujuan yang ingin dicapai. Setiap pengusaha tentu saja ingin menetapkan tujuan atau target setinggi-tingginya, alias sangat optimis. Boleh-boleh saja. Bahkan, bagus karena target yang baik adalah yang memiliki sifat menantang. Tapi jangan lupa untuk memperhitungkan sumber daya yang dimiliki perusahaan plus potensi pasar. Target tinggi yang jauh melampaui kemampuan perusahaan tak ada bedanya dengan angan-angan kosong. Jadi, di samping harus menantang, target yang ditetapkan juga harus realistis. Lantas, bagaimana caranya merumuskan tujuan atau target yang menantang sekaligus realistis sehingga bisa dicapai? Di sinilah perlunya keterlibatan pihak lain di luar pengusaha sebagai pemilik perusahaan yaitu karyawan. Sebab, bagaimanapun karyawan juga banyak mengetahui keadaan lapangan yang mereka hadapi sehari-hari. Lagi pula, jika tidak dilibatkan karyawan akan cenderung bersikap pasif dan bekerja hanya berdasarkan perintah. Hampir tidak ada inisiatif atau kreativitas. Akibatnya, pengusaha harus melakukan pengawasan secara ketat setiap saat. Ini bisa menguras waktu, pikiran, dan tenaga. Padahal, pengusaha harus memikirkan hal-hal yang bersifat strategis.

Namun, berbeda dengan pengusaha sebagai pemilik perusahaan, karyawan biasanya justru cenderung menetapkan target yang lebih rendah agar beban pekerjaannya jadi ringan. Di sinilah perlunya kompromi dengan mengambil jalan tengah. Pengusaha tidak boleh memaksakan target tinggi yang menjadi kehendaknya. Terlebih jika karyawan mampu mengajukan alasan yang masuk akal sebagai pendukung targetnya. Kalau mau lebih mantap lagi, gunakan jasa pihak ketiga di luar perusahaan yang dinilai mampu menilai kemampuan perusahaan dan potensi pasar secara lebih objektif dan netral. Setelah target perusahaan ditetapkan, barulah menyusun strategi untuk mencapainya. Ini merupakan bagian paling penting dari proses panyusunan perencanaan bisnis. Satu hal yang mesti diperhatikan, strategi tersebut tidak bersifat kaku jadi tetap memberi peluang untuk dimodifikasi sesuai dengan tuntutan perkembangan yang mungkin terjadi kelak.

Membuat perencanaan bisnis memang mudah tapi banyak perusahaan yang gagal. Kegagalan tersebut boleh jadi bukan karena perusahaan bersangkutan sama sekali tidak punya potensi, melainkan karena keliru membuat target-target dalam rencana bisnisnya. Mungkin terlalu rendah atau sebaliknya, terlalu tinggi.

Jadi, jika kita sudah membuat perencanaan bisnis untuk tahun 2010, tidak ada salahnya dilihat kembali sebelum benar-benar menjadi keputusan untuk dijalankan.

TAHAP PERENCANAAN BISNIS

(WM/E120/ThV/Januari 2006)